Nasehat Asma’binti Kharizah kepada putrinya
Hai anakku,kini engkau telah keluar dari sarang yang disitulah engkau dahulu dilahirkan sehingga menjadi besar.Kini engkau harus beralih ke sesuatu hamparan dan perumahan yang belum kau kenal dan engkau harus berkawan pula dengan seseorang yang belum kau cocoki.Itulah suamimu,jadilah engkau sebagai tanah untuknya dan ia akan menjadi sebagai langitmu.Jadilah engkau sebagai lantai untuknya dan ia dapat kau jadikan tiangmu.
Janganlah engkau menimbuninya dengan berbagai kesukaran,sebab akan menjadikan ia meninggalkanmu.Janganlah engkau terlampau jauh menjauh daripadanya,agar ia tidak melupakan dirimu.tetapi kalau mendekatimu,dekatilah ia dan sekiranya ia agak menjauhimu,jauhilah pula ia dengan baik.
Peliharalah suamimu itu benar-benar,hidungnya,pendengarannya,matanya dan lain-lain.Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu dari dirimu,melainkan yang harum.jangan pula ia mendengar melainkan yang enak,jangan pula ia melihat melainkan yang indah darimu
Istri itu hendaklah menjadi sendi utama di tengah-tengah rumahnya.Istri itu hendaknya banyak duduk di bilik rumahnya,menetap di tempat perkakas anyamannya,tidak banyak turun naiknya ataupun penyelidikannya.Ia harus sedikit bicara terhadap tetangganya.Janganlah memasuki rumah tetangganya itu melainkan dalam keadaan yang mengharuskan ia masuk ke situ.
Istri hendaklah menjaga suaminya,baik diwaktu ia bepergian ataupun ketika ada di rumah.Hendaklah diusahakan agar suaminya itu selalu gembira dalam segala sesuatu yang dihadapinya.Jangan pula istri itu keluar dari rumahnya melainkan dengan izin suaminya.
Jikalau telah menerima izin dan terpaksa harus keluar,maka hendaklah istri itu tidak berjalan sembunyi-sembunyi.berpakaian yang sederhana,tidak memamerkan tubuh dan pakaiannya.hendaklah selalu dicari tempat-tempat yang lenggang,jadi bukannya tempat-tempat lalu lintas yang ramai sehingga berdesak-desakan.ia harus menghindarkan diri dari bercakap-cakap di jalanan dengan lelaki bukan muhrim.
Yang wajib diutamakan istri itu ialah kebaikan keadaannya sendiri serta mengatur dan menertibkan keadaan rumah tangganya.selain itu haruslah rajin melakukan ibadahnya,shalat serta puasanya dan lain-lain yang menjadi keharusan dirinya.
Apabila ada seorang kawan suaminya meminta ijin dan sedang berada dimuka pintu,tetapi dikala itu suaminya sedang tidak ada,maka tidak perlulah ia menanyakan sesuatu padanya ataupun mencobanya bercakap-cakap.Hendaklah ia cemburu pada dirinya sendiri dan juga perasaan cemburu dari suaminya.
Seorang istri hendaklah puas dengan apa yang ada pada suaminya mengenai apa saja yang dirizkikan oleh Allah SWT padanya.Ia haruslah mendahulukan hak suaminya atas haknya sendiri serta hak-hak lain keluarganya.Ia wajib pula senantiasa membersihkan dirinya,bersiap sedia dalam segala waktu dan keadaan,barangkali suaminya itu dengan tiba-tiba menginginkan dirinya untuk bersenang-senang.
Selain itu istri juga wajib berbelas kasihan terhadap anak-anaknya,menjaga dan menutupi cela mereka,jangan mudah mengeluarkan kata-kata makian pada anak-anaknya itu ataupun berbuat sesuatu yang dapat menjengkelkan suaminya.
Bandung, Agustus 1996
Buat putriku tercinta
Hai anakku,kini engkau telah keluar dari sarang yang disitulah engkau dahulu dilahirkan sehingga menjadi besar.Kini engkau harus beralih ke sesuatu hamparan dan perumahan yang belum kau kenal dan engkau harus berkawan pula dengan seseorang yang belum kau cocoki.Itulah suamimu,jadilah engkau sebagai tanah untuknya dan ia akan menjadi sebagai langitmu.Jadilah engkau sebagai lantai untuknya dan ia dapat kau jadikan tiangmu.
Janganlah engkau menimbuninya dengan berbagai kesukaran,sebab akan menjadikan ia meninggalkanmu.Janganlah engkau terlampau jauh menjauh daripadanya,agar ia tidak melupakan dirimu.tetapi kalau mendekatimu,dekatilah ia dan sekiranya ia agak menjauhimu,jauhilah pula ia dengan baik.
Peliharalah suamimu itu benar-benar,hidungnya,pendengarannya,matanya dan lain-lain.Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu dari dirimu,melainkan yang harum.jangan pula ia mendengar melainkan yang enak,jangan pula ia melihat melainkan yang indah darimu
Istri itu hendaklah menjadi sendi utama di tengah-tengah rumahnya.Istri itu hendaknya banyak duduk di bilik rumahnya,menetap di tempat perkakas anyamannya,tidak banyak turun naiknya ataupun penyelidikannya.Ia harus sedikit bicara terhadap tetangganya.Janganlah memasuki rumah tetangganya itu melainkan dalam keadaan yang mengharuskan ia masuk ke situ.
Istri hendaklah menjaga suaminya,baik diwaktu ia bepergian ataupun ketika ada di rumah.Hendaklah diusahakan agar suaminya itu selalu gembira dalam segala sesuatu yang dihadapinya.Jangan pula istri itu keluar dari rumahnya melainkan dengan izin suaminya.
Jikalau telah menerima izin dan terpaksa harus keluar,maka hendaklah istri itu tidak berjalan sembunyi-sembunyi.berpakaian yang sederhana,tidak memamerkan tubuh dan pakaiannya.hendaklah selalu dicari tempat-tempat yang lenggang,jadi bukannya tempat-tempat lalu lintas yang ramai sehingga berdesak-desakan.ia harus menghindarkan diri dari bercakap-cakap di jalanan dengan lelaki bukan muhrim.
Yang wajib diutamakan istri itu ialah kebaikan keadaannya sendiri serta mengatur dan menertibkan keadaan rumah tangganya.selain itu haruslah rajin melakukan ibadahnya,shalat serta puasanya dan lain-lain yang menjadi keharusan dirinya.
Apabila ada seorang kawan suaminya meminta ijin dan sedang berada dimuka pintu,tetapi dikala itu suaminya sedang tidak ada,maka tidak perlulah ia menanyakan sesuatu padanya ataupun mencobanya bercakap-cakap.Hendaklah ia cemburu pada dirinya sendiri dan juga perasaan cemburu dari suaminya.
Seorang istri hendaklah puas dengan apa yang ada pada suaminya mengenai apa saja yang dirizkikan oleh Allah SWT padanya.Ia haruslah mendahulukan hak suaminya atas haknya sendiri serta hak-hak lain keluarganya.Ia wajib pula senantiasa membersihkan dirinya,bersiap sedia dalam segala waktu dan keadaan,barangkali suaminya itu dengan tiba-tiba menginginkan dirinya untuk bersenang-senang.
Selain itu istri juga wajib berbelas kasihan terhadap anak-anaknya,menjaga dan menutupi cela mereka,jangan mudah mengeluarkan kata-kata makian pada anak-anaknya itu ataupun berbuat sesuatu yang dapat menjengkelkan suaminya.
Bandung, Agustus 1996
Buat putriku tercinta
No comments:
Post a Comment